Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2009

SBY 2009 : The Noble Whiner

Oleh : Bambang Haryanto
Email : kisahkaos (at) gmail.com



kaos sby 2009,the noble whinner

Gagal Nobel. Anda masih ingat, di tahun 2006 tatkala SBY ikut dinominasikan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian ? Pemenangnya saat itu ternyata adalah Grameen Bank dan pendirinya Muhammad Yunus, yang berasal dari Bangladesh.

Di tahun 2009, SBY pantas memperoleh hadiah yang lain. Sesudah menang telak dalam Pilpres 2009, ia nampak harus segera mengakhiri bulan madunya karena terus diamuk dan digempur dengan rentetan masalah besar. Prof. Tjipta Lesmana menyebutkan, ibarat petinju, SBY hanya bisa berupaya untuk bertahan agar tidak roboh pada ronde pertama !

Hantaman itu, misalnya kasus kriminalisasi Ketua KPK Bibid Samad Rianto dan Chandra Hamzah, Anggodo yang menyebut-nyebut nama dia dalam rekaman KPK, lalu kasus panas Bank Century yang semakin menghangat, sampai penerbitan buku menghebohkan, Membongkar Gurita Cikeas-nya George Junus Aditjondro.


Noble whiner. Kita dan media mencatat, sejak saat itu SBY suka mengeluh dan merengek, to whine di mana-mana. Kecuali mungkin saat ia berada di Copenhagen. SBY selalu bicara dirinya merasa sebagai korban fitnah. Bukannya ia tegar, memberikan jawaban yang rasional, perilaku yang ia pilih justru mengeluh kemana-mana.

Untuk mengabadikan momen itu, untuk menutup tahun 2009 saya berencana meluncurkan kaos : “SBY 2009 : The Noble Whiner.” Untuk mendokumentasikan fenomena betapa SBY di tahun 2009 ini (juga di tahun 2010 mendatang ?) merupakan sosok penguasa, nobleman, yang getol mengeluh dan merengek kemana-mana.

Anda dapat bebas menggunakan slogan di atas, baik dalam kaos Anda atau situs blog Anda. Untuk Anda yang berminat membuat kaos bersama-sama saya, silakan kontak :

kisahkaos (at) gmail.com
cc : humorliner (at) yahoo.com.

Terima kasih.

kk

Sabtu, 07 November 2009

Facebook, Kaos Dukung KPK dan Blunder Presiden SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Email : kisahkaos (at) gmail.com



Déjà vu, 1998. “Untuk pribadi yang memiliki naluri luar biasa dalam mengeksploitasi kekurangan fihak lain, secara mengejutkan ternyata Suharto terbukti tidak mampu mencermati kekurangan yang terdapat dalam dirinya sendiri. Barangkali karena ia terpancang pada masa lalu.”

Itulah awal tulisan Tim Healy berjudul “Kings Don’t Fall Lightly” di majalah AsiaWeek, 5 Juni 1998.

Majalah itu memuat laporan utamanya mengenai kejatuhan rezim Suharto ketika diterjang badai reformasi dan naiknya Habibie, yang digugat dalam sampulnya berbunyi : Presiden atau Pion ?

“Momen itu pasti mengejutkannya. Setelah kembali dari sebuah konferensi di Mesir dan mendapati Indonesia dicekam aksi kerusuhan, Suharto mencoba memulihkan kembali kekuasaannya. Tetapi segera saja ia mendapati dirinya dalam posisi yang aneh : dirinya hanyalah sosok pion dalam permainan kekuasaan di antara fihak lainnya dibanding sebagai seorang ahli strategi,” lanjut Tim Healy.

Gambaran betapa seorang presiden dapat diibaratkan sebagai sosok “bebek lumpuh” di tahun 1998 itu sepertinya berulang kembali pada awal November 2009 ini. Kali ini menimpa Presiden SBY yang baru terpilih.

Ketika menanggapi tindakan polisi yang menahan Wakil Ketua KPK (nonaktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, dalam jumpa pers Jumat malam (30/10/2009), nampak SBY seperti kehilangan kontak dengan realitas. Ia hadir seperti makhluk asing di tengah lautan nurani keadilan publik bangsa ini yang terkoyak.

Saat itu SBY secara normatif mengatakan bahwa penahanan kedua petinggi KPK itu merupakan hal yang biasa. Ada ratusan dan ribuah kejadian yang sama telah terjadi, begitu simpul SBY. Di bagian lain ia malah condong mengecam aksi penyadapan yang legal dilakukan oleh KPK sembari menguatirkan betapa aksi serupa akan dilakukan oleh orang-orang yang mampu membeli peralatan yang sama sehingga terjadi “lautan aksi penyadapan,” ujar SBY seperti dilanda paranoia.


Meledak di Dunia Maya. Pendekatan normatif model SBY itu, esok harinya, menuai badai. Kemarahan rakyat atas tindakan polisi yang dinilai sewenang-wenang dengan menahan Bibit dan Chandra tidak mampu ditentramkan dengan pernyataan presiden itu.

Akhirnya kegusaran itu antara lain juga meledak beramunisikan media jaringan sosial Facebook di dunia maya.

Ujudnya berupa gerakan solidaritas, cause, perjuangan, untuk mendukung Bibit dan Chandra dalam memperoleh keadilan. Para facebookers ini mewakili sebagian suara rakyat. Siapa sesungguhnya di balik ”gerakan” ini?

”Saya rakyat biasa yang marah dengan kemungkaran di negeri ini,” kata Usman Yasin, yang membuat dan menjadi pengelola ”Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto”.

Usman Yasin adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jambi yang juga mahasiswa program doktor di Institut Pertanian Bogor. Kamis siang itu dia baru saja mengikuti ujian doktoral.

”Saya menyalakan televisi untuk melepas lelah setelah ujian. Namun, saya justru melihat berita Pak Bibit dan Chandra ditahan. Hati saya tak tahan lagi dengan ulah lembaga penegak hukum. Saya pikir mereka sewenang-wenang,” katanya.

Lalu, secara spontan, Usman Yasin pun membuat akun gerakan dukungan di jejaring sosial Facebook. ”Saya bukan anggota partai, juga bukan politisi. Saya juga tidak kenal dengan Pak Bibit dan Chandra, tetapi hati saya mengatakan mereka berani dan benar,” ujarnya lagi.

Tanggal (2/11/2009), sekitar jam 10-an, saya berbulat hati untuk ikut berbaris dalam akun cause, perjuangan, di situs jejaring sosial Facebook itu. Saya merasa punya makna sebagai warga negara ketika terjun di tengah gelegak gerakan moral di dunia maya tersebut. Saat itu saya menemukan logo parodi KPK (foto) karya sahabat seaspirasi di Facebook tersebut dan kini telah menghias kaos kebanggaan saya.

Sebelumnya, dalam menyikapi kemelut KPK vs Polri itu saya telah menulis di blog saya, The Funny Business, sebuah fake news a la Andy Borowitz. Saya ceritakan bahwa asal muasal ricuh itu dipicu oleh keberadaan telepon genggam cerdas baru Breakberry buatan Cayman Island. Anda dapat juga menyimak tulisan berjudul KPK, Polisi dan Goyang Buaya dalam blog yang sama.

Selebihnya, saya bangga bisa masuk dalam barisan cause di Facebook itu, walau mungkin saya berada pada nomor sekitar 321.380. Tak apa. Malamnya, sekitar jam 21-an, dukungan itu sudah mencapai angka 423 ribuan. Saat ini (7/11/2009, Jam 11.40) dukungan itu sudah mencapai angka :1.016.038. Rekor satu juta telah terpecahkan !

Blunder SBY Berlanjut. Angka itu bagi SBY dan para menterinya mungkin hanya dianggap hanya sebagai angka yang tak punya makna apa-apa. Setelah meraih kemenangan yang fenomenal dalam Pilpres 2009, setelah merasa mampu berbuat adil dalam membagi-bagi kue kekuasaan kepada partai koalisinya, ketika merasa oposisi mungkin ia nilai tak punya gigi, SBY seperti terbuai dalam menikmati zona nyaman dalam masa bulan madunya itu.

Tetapi ia lupa. Seperti kata Tjipta Lesmana sebagaimana dikutip BBC (31/10/2009) bahwa penahanan Bibit dan Chandra itu menyangkut the biggest human virtue, yaitu rasa keadilan, keadilan dan keadilan pada diri rakyat, membuat pendekatan normatif a la SBY, seperti dilakukan saat Suharto dilanda krisis, yaitu semata mengandalkan masa lalu itu tidak manjur lagi.

Walau sebenarnya masa lalu itu hanya beberapa bulan yang lewat, tetapi di mata rakyat langkah semacam itu akan dinilai sebagai suatu pencederaan. Sehingga dikuatirkan hanya mendorong dirinya menuju tepian jurang. Jurang krisis kepercayaan !

“Tidak ada satu pun kekuasaan yang mampu bertahan melawan gerakan dan suara masyarakat. Mereka akan terlindas,” tegas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, setelah memperdengarkan rekaman hasil penyadapan KPK di lembaganya itu. SBY kini tinggal menyandarkan efektivitas pemerintahannya kepada hasil kerja Tim 8 di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution. Mereka merupakan bemper presiden kita.

Tetapi toh blunder SBY itu berlanjut. Untuk itu saya telah mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka, 6 November 2009, sebagai berikut :

SBY, PO Box vs Facebook

Fisiknya lumpuh, tetapi isi surat pembacanya senantiasa jernih dan tajam. Mantan agen koran yang sudah berhaji itu bahkan ingin menyumbangkan gagasan tentang bagaimana republik ini dijalankan secara langsung ke SBY. Untuk itu ia juga ingin suratnya memperoleh balasan secara langsung pula dari presiden. Tetapi si penulis surat itu harus kecewa. Jawaban normatif yang ia terima berupa surat dari kantor kepresidenan, tidak membuatnya puas. Surat dari kantor presiden itu kemudian ia kembalikan, ia kirim balik ke Jakarta.

Penulis surat itu adalah Bapak H. Erlangga Chandra dari Banyudono, Boyolali. Keluh-kesah beliau itu disiarkan oleh jaringan Radio 68 H (6/11/2006) se-Indonesia. Nara sumber lainnya adalah Dr. F. Pudiyanto Suradibroto (Jakarta), FX Triyas Hadi Prihantoro (Solo), Soeroyo (Solo) dan saya sendiri dari Wonogiri. Siaran khusus itu, diputar ulang 11/11/2006, memang membedah mengenai krida para penulis surat pembaca yang tergabung dalam komunitas Epistoholik Indonesia (EI).

Spirit seorang warga negara yang bergairah ingin menyumbangkan gagasan tetapi harus menelan kecewa, seperti dicontohkan Bapak Erlangga Chandra itu, sepertinya harus terulang kembali tepat tiga tahun di bulan November ini pula.

Di tengah tekanan masyarakat terkait kasus kriminalisasi dua pimpinan non-aktif KPK yang patut diduga dilakukan komplotan terdiri cukong dan oknum-oknum penegak hukum yang busuk, Presiden SBY meluncurkan program kerja 100 hari pemerintahannya. Program pertama yang ia sebut adalah upaya memberantas, mengganyang mafia hukum. Untuk itu SBY menyediakan fasilitas Kotakpos 9949 Jakarta 10000, guna menampung surat-surat keluhan dan aduan dari masyarakat.

SBY adalah seorang doktor, dan disekelilingnya juga banyak para cerdik pandai. Tetapi di era Internet ini, di kala keputusannya harus senantiasa tepat dan cepat, manajemen komunikasinya nampak dieksekusi sebagai orang yang berasal dari jaman baheula.

Ketika gelora gerakan anti kriminalisasi KPK yang digalang warga negara Indonesia bermediakan jaringan sosial seperti Facebook dimana tiap hari bertambah ratusan ribu pendukungnya, SBY hanya mampu merespons gelombang tuntutan dahsyat itu dengan membuka kotak pos. Tak ubahnya mengulang trik untuk meredam frustrasi rakyat a la era Orde Baru.

Ia hanya nampak bersedia menerima surat-surat kertas yang di era digital ini disebut dengan ejekan sebagai snail mail, surat keong, karena lambannya. Sebagai ilustrasi, bila surat semacam itu saya kirim dari Wonogiri, mungkin baru akan sampai di Jakarta 2-3 hari kemudian. Memakan waktu 172800-259200 detik. Kalau dikirimkan lewat email, hanya butuh waktu sekitar 15-30 detik. Bayangkan perbedaanya !

Belajarlah sedikit dari Obama, yang tak pernah lepas dari telepon genggamnya, sehingga ia mengetahui denyut nadi dan suara rakyat yang diperintahnya. Setiap saat. Saran usil saya : bukalah akun Facebook, Pak SBY. Lalu pertama-tama, bergabunglah bersama kami dalam barisan yang membela keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Maaf, dalam situasi genting di mana rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap penegak hukum sedemikian anjlok saat ini, rakyat Indonesia menunggu : kini Anda harus tampil tegas, sebenarnya Anda sekarang berada di fihak yang mana ?


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 7/11/2009

kk

Minggu, 03 Mei 2009

Politisi Pinokio dan Kaos Dari BBC

Photobucket

”Kalau Saya Jadi Presiden, saya memacu ilmuwan dunia membuat pil ajaib yang khasiatnya membuat hidung akan memanjang setiap kali si penenggak pil itu berbuat culas dan bohong. Ingat dongeng Pinokio, bukan ?

Saya sebagai presiden, wakil presiden, para menteri dan seluruh pejabat negara, saat disumpah harus menelan pil ajaib itu. Tinggal kemudian rakyat yang mengawasi, siapa-siapa saja yang hidungnya memanjang (kecuali disengat lebah !), maka pejabat itu pasti korup dan jabatannya harus segera diakhiri !”

Itulah ungkapan pendapat saya yang diudarakan Radio BBC Siaran Indonesia, 5 Juni 2004. Saya kemudian dihadiahi kaos (foto) yang kadang masih saya kenakan. Termasuk tiga tahun kemudian, pada tanggal 8/10/2007 malam, ketika saya tiba-tiba mendapat telepon dari BBC Siaran Indonesia.

Dari reporternya, Donny Maulana.

Rupanya, dengan bantuan mesin pencari Google, ia menemukan blog saya, Komedikus Erektus ! yang merupakan sumbang saran saya semampunya untuk ikut mendorong kemajuan komedi di Indonesia. Ia mendaulat saya untuk membicarakan fenomena klub komedi sebagai kawah chandradimuka, ajang penggemblengan komedian-komedian solo yang cerdas, demi kemajuan masa depan komedi Indonesia.

Sebagai orang kampung, yang tinggal di Wonogiri, kesempatan ngobrol seperti ini sungguh tak terbayangkan. Apalagi tentang klub komedi, sebuah topik yang tak pernah disentuh beragam media mainstream di Indonesia selama ini.

Karena antusias, saya sempat mengungkapkan keberadaan klub komedi sebagai fenomena gaya hidup urban, oasis cerdas bagi mereka yang sudah muak atau tidak puas dengan suguhan-suguhan komedi yang ada di televisi. Juga diimbuhi ilustrasi bagaimana sosok-sosok komedian solo di AS, seperti Conan O’Brien atau Andy Borowitz, adalah lulusan magna cum laude dari Universitas Harvard. Selain Effendi Gazali, siapa komedian “sekolahan” kita saat ini ?

Nara sumber lainnya adalah Ramon P Tommybens, pendiri Comedy Cafe Indonesia (1997), kafe pertama di Indonesia dengan konsep komedi. Silakan kunjungi di Pasar Festival Kuningan, Jakarta. Obrolan itu telah disiarkan pada hari Minggu, pada acara Seni dan Budaya, jam 18.00, 14 Oktober 2007.

Peristiwa itu telah berlalu. Kaos dari BBC lima tahun lalu itu, yang desainnya sederhana itu, masih tetap saya kenakan di rumah saja. Begitulah, setiap kaos memang punya cerita. Kenakan. Kenangkan. Kisahkan.

Wonogiri, 4 Mei 2009.

Kamis, 30 April 2009

DVC : Dagadu Virtual Community, 1998

Surat Bambang Haryanto
Tentang Ekonomi Jaringan Untuk Dagadu


Photobucket

Era Ekonomi Jaringan. Kevin Kelly dalam artikel seminalnya di majalah Wired (September 1997) antara lain menandaskan harus makin terbukanya hubungan antara perusahaan dan konsumen. “Semakin terbukanya pelbagai dimensi bagi anggota untuk memberi masukan dan kreasi, semakin meningkat pula hasil keuntungan bagi seluruh jaringan, sehingga sistem mampu menghidupi dirinya sendiri untuk meraih kemakmuran secara bersama,” tandasnya. Artikel Kevin Kelly ini yang sekarang sudah dibukukan, mengilhami saya untuk menulis “ide edan” untuk Dagadu di bawah ini. Surat ini tidak memperoleh balasan.

Jakarta, 17 Januari 1998

Yth. Bung Ahmad Noor Arief
dan seluruh kerabat Dagadu di Djogdjakarta

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

Senang sekali saya membaca media massa yang mewartakan kisah sukses Anda-Anda semua. Yang terakhir saya melihatnya di Gatra (dengan foto para personil Dagadu yang …wow..keren !) dan di Kompas (6 Desember 1997) yang lalu. Salut !

Anda-Anda dan Dagadu adalah hero saya. Dalam arti bahwa saya melihat Dagadu bukan sekadar perusahaan pembuat/penjual kaos plesetan, melainkan sebagai perusahaan yang berbisnis infotainment (information + entertainment). Sajian infotainment a la Dagadu yang membedakan produk Anda dari produk sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lain (saya sebut di surat, tetapi saya hilangkan di posting ini).

Mungkin Anda tak setuju. Mungkin saya keliru berpendapat : kalau Dagadu memandang bisnisnya adalah kaos plesetan, maka –saya kuatir- bisnis Anda hanyalah fads. Ia seperti fenomena kubus Rubik, Tamagotchi, yang sebentar hot banget dan lalu menghilang popularitasnya ditelan waktu.

Tetapi kalau Anda mau mengubah paradigma pikiran bahwa Dagadu itu bisnis intinya adalah infotainment, banyak peluang terbuka di abad 21. Salah satunya, mungkin ini ide agak edan, saya berani memvisikan ke depan bahwa bila dikelola dengan baik maka Dagadu sat ini adalah benih yang berpotensi besar untuk menjadi perusahaan raksasa infotainment seperti Disney. Bayangkan, Anda semua bakal jadi pemegang saham theme park a la Disney di Orlando (AS), Jepang atau Paris, yang bernama : Dagaduland !

Mengapa saya berani “gila,” berkhayal-khayal, seperti itu ? Justru Anda-Anda semua yang menjadi pemicunya !

Pemicu ide edan diatas adalah sajian iklan “Awas Barang Aseli !” Anda di Kompas (17 Desember 1997). Iklan itu menarik. Tetapi ia akan lebih menarik bagi para dagadumania bila mereka selain anda ingatkan mengenai ciri-ciri dan layanan khusus a la Dagadu, juga diinfokan bahwa mereka layak diberi hadiah.

Hadiah untuk pelanggan Dagadu bukan gelas/piring, atau uang. Tetapi sesuatu yang sangat berharga dan amat dibutuhkan oleh tiap-tiap individu manusia : perasaan berharga bahwa dirinya dibutuhkan.

Konkritnya : daulat mereka sebagai warga utama Dagadu. Beri mereka saluran untuk memudahkan berinteraksi dengan Anda, sebagai teman/sahabat/rekanan mereka. Bukakan peluang mereka berinteraksi dengan sesama Dagadumania.

Interaksi ini baru langkah pertama untuk membangkitkan gerakan madani. Madani = civil society ? Bukan. Melainkan madani = masyarakat dagadu nirwujud (dagadu virtual community/DVC). Teknologi masa kini memungkinkan DVC !

Kalau sudah memasuki “DVC” maka Dagadu memasuki tahap sebagai bisnis yang higher level. Pendaulatan konsumen sebagai warga utama Dagadu dan pengoperasian DVC, akan memungkinkan terjadinya revolusi bisnis : mereka membeli produk-produk Dagadu hasil disain mereka (!) sendiri.

Produk-produk Dagadu makin unik, menjadi amat personal, tetapi dimungkinkan di-charge dengan harga premium. Pola bisnis personal inilah bisnis yang bakal tidak luntur oleh pergantian generasi, selera, atau jaman. Itu semua dimungkinkan terjadi di Dagaduland !

Semoga silaturahmi dan provokasi ide ini, ada manfaatnya. Jangan difikir terlalu serius ya ?

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Bambang Haryanto
Pengagum Dagadu

PS : Bung Ahmad, terima kasih untuk surat Anda yang lalu. Saya bisa memahami GBHN-nya Dagadu saat ini. Bagaimana dengan provokasi ide yang satu ini ?

Demokrasi, Diriku dan Dagadu, 1997

Berbalas surat tentang kaos
untuk mempromosikan gerakan demokrasi


Photobucket
1997 : Indonesia Bergolak. Majalah TIME (26 Mei 1997) melaporkan situasi Indonesia yang memanas menjelang pemilu 1997. “Tak diragukan lagi, Suharto akan menang besar dalam pemilu minggu ini, tetapi Indonesia yang rapuh memulai awal politik masa depan tanpa dirinya,” tulisnya. Ramalan yang menjadi kenyataan, 21 Mei 2008, saat Suharto tumbang. Apakah ada kaos yang ikut menjadi embrio dan sekaligus memotret pergolakan bangsa kita menuju demokrasi saat itu ?


Jakarta, 16 Juli 1997

Yth. Rekan-rekan di DAGADU yang kreatif dan sukses,

Semoga bisnis t-shirt Anda makin sukses. Mohon maaf, saya ingin sedikit menghimbau : semoga 1-2 atau 5 persen sukses Anda itu sudi Anda alokasikan untuk merancang aneka t-shirt yang mempromosikan gerakan demokrasi – sesuai dengan cara, visi dan aksi yang Anda yakini !

Siapa tahu, himbauan ini akan membukakan cakrawala kita yang lebih luas tentang masa depan. Anda punya komentar ? Saya nantikan.

Sukses untuk Dagadu !

Hormat saya,

Bambang Haryanto
PO Box 6255/Jatra
Jakarta 13062


Balasan Dagadu :

Yang terhormat
Mas Bambang Haryanto
PO Box 6255/jatra
Jakarta 13002

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

Barangkali, kesempatan silaturahmi adalah berkah yang harus senantiasa disyukuri. Karenanya, surat Mas BH bertanggal 16 Juli 1997 (kami menerimanya lima hari kemudian) serta kartu pos bertanggal 5 April 1997 (yang barusan ketemu setelah kami cari lebih dari tiga bulan akibat ketlingsut dalam berantakannya filing kami) benar-benar menjadi tegus sapa yang selama ini amat kami nantikan.

Untuk itu, izinkan kami berterima kasih atas perhatian Mas BH selama ini. juga atas kesediaan Mas BH meluangkan waktu untuk menuliskan usul yang sungguh menggoda dan menantang.

Terus terang, sudah sejak lama kami ingin dapat terlibat dalam “tema-tema besar” semacam pelestarian lingkungan, hak asasi manusia, feminisme ataupun –yang selalu menjadi panglima dalam wacana diskusi kontemporer kita – demokrasi.

Bisa nyangkut-nyangkut ke dalam perbincangan seputar hal itu, jujur saja, rasa-rasanya bukan Cuma menjadikan kami merasa dapat menyahut panggilan jaman atau menjawab tuntutan akal nurani sehat, melainkan juga memberikan “keuntungan” besar lainnya : citra (atau gengsi ?) intelektual.

Celakanya, sampai saat ini kami ternyata belum juga pe-de terhadap kemampuan kami untuk berbagi opini itu semua. Padahal, rasa-rasanya pula, kami sudah selalu berusaha keep in touch dengan pelbagai informasi dan pemikiran yang bersangkut-paut dengan itu – dalam kadar keterlibatan sebatas kemampuan yang ada, tentu saja.

Tetapi entah kenapa rasa pe-de itu tak datang-datang juga. Apakah ini semacam keminderan yang akut atau kemalasan berpikir yang kronis, kami tidak tahu pasti.

Tapi kalau mau jujur lagi, kadang-kadang memang ada kegenitan untuk memberi justifikasi yang “agak tinggi” terhadap segala yang kami kerjakan. Ketika berplesetan-ria, misalnya, kami berandai-andai seolah-olah kami telah ikut menyatakan perlunya multiinterpretasi –dan bukan monopoli tafsir—terhadap suatu simbol atau tanda, yang pemaknaannya barangkali akan sangat bagus jika tidak berada dalam genggaman otoritas sekelompok orang melainkan tumbuh pada ranah publik.

Juga sangat mengangkat hal-hal keseharian sebagai tema rancangan, kami juga berandai-andai lagi seolah-olah kami telah ikut mengutarakan sikap bahwa ruang publik tidak selayaknya hanya disesaki dengan segala yang bersifat grand : bahkan ordinaryness-pun layak mendapat tempat.

Lalu sewaktu mengusung lokalitas, kami berkhayal seakan-akan sedang berada di jalur semangat regionalisme sembari pura-pura mengenyahkan pikiran tentang dominasi pusat dan inferiotas pinggiran. Wah, wah, wah…..

Mungkin itu tadi Cuma ilusi asal-asalan. Tapi paling tidak, dengan menganggapnya sebagai “Cuma ilusi asal-asalan,” kami coba belajar menertawakan diri sendiri. Siapa tahu dengan makin rendah hati kita bisa makin menerima kehadiran the others. Siapa tahu………… Ya, siapa tahu.

Oke, sekali lagi terima kasih berat atas perhatian dan saran Mas BH. Semoga Tuhan melapangkan jalan bagi beragam upaya menuju kemaslahatan bersama.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, 23 Juli 1997

Teriring salam hormat dari seluruh kerabat Dagadu,

Ahmad Noor Arief